Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Di Bawah Langit May Day Sumbar: Buruh Menyulam Asa, Merawat Keadilan, dan Menjaga Bumi”



Padang— Di bawah langit yang cerah di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat, peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 menjelma lebih dari sekadar seremoni. Ia hadir sebagai ruang temu antara harapan dan perjuangan, tempat ratusan buruh dari berbagai kabupaten dan kota menautkan suara dalam satu irama: keadilan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih bermakna.

Ketua SPSI Sumatera Barat, Arsukman Edi, menyebut momentum ini sebagai “happy day” bagi kaum pekerja—sebuah hari yang tidak hanya dirayakan, tetapi juga dimaknai sebagai titik terang dari perjalanan panjang perjuangan buruh.

“Ini bukan sekadar peringatan. Ini adalah hari di mana harapan-harapan mulai menemukan jalannya,” ucapnya, penuh keyakinan.

Ia menuturkan, sejumlah capaian penting tengah mengemuka di panggung nasional—mulai dari dorongan revisi regulasi ketenagakerjaan yang lebih berkeadilan, peresmian Museum Marsinah sebagai penanda sejarah perjuangan buruh, hingga hadirnya representasi SPSI dalam kabinet pemerintahan. Semua itu, menurutnya, adalah isyarat bahwa suara buruh semakin didengar.

Namun, di balik capaian itu, Arsukman mengingatkan bahwa keseimbangan tetap menjadi kunci. Buruh dan pengusaha, katanya, bukanlah dua kutub yang saling meniadakan, melainkan dua sisi yang harus saling menguatkan.

“Kesejahteraan pekerja dan keberlangsungan usaha harus berjalan seiring. Harmoni dalam hubungan industrial adalah fondasi bagi stabilitas ekonomi dan ketenangan sosial,” ujarnya.

Sekitar 300 peserta yang hadir tampak larut dalam suasana yang tertib dan penuh semangat kebersamaan. Dukungan dari Pemerintah Provinsi Sumbar serta jajaran kepolisian menjadi penopang terselenggaranya kegiatan dengan lancar dan aman.

Lebih jauh, Arsukman menekankan pentingnya ruang dialog sebagai jalan utama dalam menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan. Peran Dewan Pengupahan dan LKS Tripartit, menurutnya, harus terus diperkuat sebagai jembatan komunikasi antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.

“Selama dialog masih bernapas, di situlah kita menaruh harapan. Namun jika ruang itu menghilang, buruh tentu memiliki cara lain untuk menyuarakan haknya,” katanya tegas.

Tak berhenti pada isu kesejahteraan, May Day kali ini juga membawa pesan yang lebih luas: kepedulian terhadap lingkungan. Arsukman mengajak seluruh anggota SPSI untuk turut menjaga bumi, sejalan dengan arah kebijakan nasional yang kian menempatkan lingkungan sebagai prioritas.

“Perjuangan buruh hari ini bukan hanya tentang upah, tapi juga tentang warisan bagi generasi mendatang. Kita harus menjaga lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama,” 

May Day 2026 di Sumatera Barat pun meninggalkan jejak makna—bahwa di tengah riuh dunia kerja, masih ada ruang bagi harapan untuk tumbuh, bagi keadilan untuk diperjuangkan, dan bagi masa depan untuk dirawat dengan kesadaran kolektif.