Jembatan Gantung Koto Rawang Dibangun, Gina Lamria Indriati: Akses Warga Kembali Terhubung Usai Diterjang Banjir
PESISIR SELATAN — Harapan masyarakat Nagari Koto Rawang, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, untuk kembali memiliki akses penghubung yang aman akhirnya terwujud. Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat merealisasikan pembangunan Jembatan Gantung Koto Rawang, menggantikan jembatan lama yang hancur diterjang banjir besar pada 2024.
Pembangunan infrastruktur tanggap bencana dengan nilai anggaran mencapai Rp7,4 miliar tersebut menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memulihkan konektivitas masyarakat yang sebelumnya sempat terganggu akibat rusaknya akses penghubung.
Di balik pembangunan tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.4 Satker PJN Wilayah II Sumatera Barat, Gina Lamria Indriati Tampubolon, S.T., memastikan pekerjaan tidak sekadar mengejar berdirinya sebuah jembatan, tetapi juga memperhatikan aspek keselamatan, ketahanan konstruksi, serta kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.
Menurut Gina, desain jembatan baru dibuat lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan dan potensi bencana. Salah satu langkah penting yang dilakukan adalah meningkatkan elevasi jembatan sekitar 1,5 meter dibandingkan jembatan lama.
Peninggian tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan kembali terjadinya luapan air dan banjir, sehingga akses masyarakat diharapkan tetap lebih aman dan dapat berfungsi secara optimal.
“Jembatan gantung ini memiliki kapasitas beban maksimal 1,5 ton yang diperuntukkan bagi pejalan kaki dan kendaraan roda dua. Meski demikian, konstruksinya tetap dirancang khusus untuk mendukung kondisi darurat, seperti akses melintas armada ambulans,” ujar Gina.
Gina Tekankan Keselamatan dan Batas Beban
Gina menegaskan, keberadaan jembatan baru harus diikuti dengan kesadaran seluruh pengguna untuk menjaga konstruksi. Masyarakat diminta tidak memaksakan kendaraan roda empat non-darurat melintasi jembatan meskipun secara fisik kendaraan tersebut memungkinkan untuk masuk.
Pembatasan tersebut bukan tanpa alasan. Dengan kapasitas maksimal 1,5 ton, penggunaan kendaraan melebihi batas beban dapat memberikan tekanan berlebih terhadap struktur jembatan dan berpotensi memperpendek usia layanan infrastruktur.
Jembatan tersebut dirancang dengan target usia rencana sekitar 10 tahun, sehingga pemanfaatan sesuai peruntukan menjadi salah satu kunci agar manfaat pembangunan dapat dirasakan masyarakat dalam waktu panjang.
Bukan Sekadar Jembatan, tetapi Nadi Kehidupan Warga
Kehadiran Jembatan Gantung Koto Rawang kini bukan hanya menjadi pengganti infrastruktur yang rusak. Lebih dari itu, jembatan ini diharapkan menjadi kembali terbukanya akses sosial dan ekonomi masyarakat.
Jalur tersebut memiliki arti penting bagi aktivitas warga, mulai dari mobilitas sehari-hari, akses anak-anak menuju sekolah, distribusi hasil pertanian, hingga akses layanan kesehatan dan evakuasi dalam kondisi darurat.
Dengan kembali terhubungnya akses masyarakat, biaya dan waktu distribusi hasil pertanian diharapkan dapat ditekan. Aktivitas ekonomi warga pun berpotensi kembali bergerak setelah sebelumnya terdampak kerusakan infrastruktur akibat bencana.
Bagi Gina Lamria Indriati Tampubolon, pembangunan jembatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah dalam menghadirkan infrastruktur yang tidak hanya berdiri kokoh, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Sinergi antara pemerintah pusat, BPJN Sumatera Barat, Satker PJN Wilayah II, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam mengembalikan konektivitas Koto Rawang.
Jembatan Gantung Koto Rawang pun kini hadir sebagai simbol pemulihan. Dari sebuah akses yang pernah terputus akibat bencana, pemerintah kembali membuka jalan bagi masyarakat untuk bergerak, bekerja, bersekolah, mengangkut hasil pertanian, hingga memperoleh layanan darurat dengan lebih mudah.
Spesifikasi utama Jembatan Gantung Koto Rawang:Anggaran: Rp7,4 miliar melalui APBN/Kementerian PU
Kapasitas beban: Maksimal 1,5 ton
Peruntukan: Pejalan kaki dan kendaraan roda dua
Kondisi darurat: Mendukung akses ambulans
Peningkatan elevasi: 1,5 meter dari jembatan lama
Target usia rencana: 10 tahun.
