Curah Hujan 2016 dan 2023 Beda, Dampak Banjir di Kota Padang Sama Hasilnya :  Muhammad Dian Al Ma,aruf, Kepala Balai BWSS V  : Masterplan Dibuat 2001, Perlu Dikaji Ulang


PADANG, INVESTIGASI_Kota Padang langganan banjir. Jangankan sehari, dua jam saja sudah menggenangi kota ini.  Derita warga, saat hujan turun itu, terus menghantui, namun sampai sekarang tak ada solusi. Bahkan, banjir yang terjadi baru baru ini, sangat parah, hampir sama yang terjadi tahun 2016 lalu. 


Padahal, kalau dibandingkan kejadian banjir yang terjadi di Kota Padang, tahun 2016 dan 2023 ada perbedaan, namun parahnya sama. Bayangkan, curah hujan 2023 ini (218 mm/) dan lebih kecil dibanding 2016 (< 300 mm/hari , dampak banjirnya sama. Tentu jadi pertanyaan, apa penyebabnya. 


Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWSS V) Sumbar, Muhammad Dian Al Ma'aruf, mengatakan, untuk jangka pendek penanganan banjir di Kota Padang, melihat  kondisi banjir yang terjadi, Jumat (14/7),  perlu dilakukan pengurangan resiko banjir.


Katanya, untuk jangka pendek dan sangat mendesak Kota Padang, sangat membutuhkan penambahan beberapa unit pompa penyedot air. Sebab, sekarang, baru  punya 1 pompa penyedot air. Itupun belum cukup  menangani banjir, disaat tingginya curah hujan yang terjadi."Jangka pendek, perlu penambahan pompa penyedot air," kata sosok yang dekat dengan kalangan media.


Untuk jangka menengah dan jangka panjang,  ujar sosok yang sangat peduli dengan banjir Kota Padang ini, sedang dikaji ulang. Ini terkait kapasitas sungai dan polder yang ada. Sehingga, bisa diketahui upaya penanggulangan banjirnya bagaimana, apakah penambahan polder, tanggul sungai atau normalisasi sungai.


"Ini perlu dikaji ulang, sebab masterplan sudah dibuat 2001, salah satu produknya banjir kanal dan drainase lolong, termasuk bangunan pengendalian banjir lainnya, beda dengan kondisi sekarang ini.  Apalagi, jika dibandingkan kejadian banjir tahun 2016 dengan 2023. Curah hujan 2023 lebih kecil hanya (218 mm/hari), parahnya hampir sama dengan 2016, dengan curah hujan (<300 mm/hari," ulasnya.


Dian panggilan akrab Ka Balai ini, juga menyinggung, resiko bencana banjir, juga disebabkan oleh kondisi lingkungan permukiman di daerah bantaran sungai yang sangat padat. Ditambah sistim tata bangunan dan sirkulasi tidak teratur, termasuk tanggul sungai dan drainase tak memadai. Sebab, sudah menyatu dengan bangunan hingga terjadi alih fungsi lahan. Solusinya, perlu juga diperketat masalah perizinan


"Intinya, penanganan permukiman dan perbaikan infrastruktur pendukung serta penataan drainase, diharapkan menjadi salah satu fokus pemerintah agar bencana banjir tidak semakin parah atau terjadi lagi," katanya


Diakhir keterangan Dian menyampaikan, hal yang menjadi penyebab semakin banyaknya air dipermukaan, karena semakin banyaknya lahan resapan yang tertutup bangunan meningkatkan koefisiensi run off. Sehingga selanjutnya harus diantisipasi lagi dengan lebih selektif dalam tata perizinan penempatan bangunan.


"Hal lain yang juga penting diperhatikan adalah drainase, kebersihan yang perlu dijaga bersama antara pemerintah dan masyarakat umumnya," kata Dian Mengakhiri. Nv

 
Top