Obral Chaniago: Sang Pengunyah Asam Garam, Penulis Napas Zaman di Ranah Minang
Di Padang, ketika senja jatuh di batas Pantai Purus, dan riuh jalanan Iman Bonjol mulai mereda, ada satu nama yang tetap tenang menatap layar gawai. Ia bukan anak muda yang mengejar clickbait, melainkan seorang penjaga api jurnalistik yang jemarinya telah menari di atas mesin tik sejak Orde Baru. Ia adalah Obral Chaniago.
Lahir di Bayang, Pesisir Selatan pada tahun 1966, Obral membawa aroma laut dan keteguhan alam Minang ke dalam setiap tulisan. Sejak 1988, saat dunia masih mencium bau tinta basah Harian Umum Semangat-di mana redaksinya pernah berteduh di Jalan Iman Bonjol 50, Padang-Obral telah menasbihkan diri sebagai "kuli tinta".
Surat Kabar ke Layar Digital: Sebuah
Kesetiaan
Menyaksikan Obral hari ini adalah menatap sejarah yang hidup. Ia jembatan dari zaman kertas koran yang kuning dimakan usia, beranjak ke era cahaya digital yang serba cepat. Pria berdarah Pesisir Selatan ini tidak tumbang oleh milenialisme, ia mengadopsinya. Baginya, teknologi hanyalah alat, namun netralitas dan konfirmasi berimbang adalah ruh yang tak boleh mati.
Ia bukan wartawan yang duduk manis menunggu rilis berita. Obral adalah pelancong informasi. Kita sering menemuinya melangkah penuh wibawa namun santun di ruang-ruang OPD Pemprov Sumbar maupun Pemko Padang, mengejar wawancara khusus.
Namun, di saat yang sama, ia tak canggung duduk di warung kopi, mendengar keluh kesah masyarakat akar rumput. Narasi politik, sosial, budaya, ekonomi, hingga hukum, ia jalin menjadi berita yang menyuarakan kepentingan orang banyak.
Mengunyah Asam Garam: Merawat
Kepuasan
Menjadi wartawan selama puluhan tahun-sejak 1988-bukanlah perjalanan yang lurus.
Obral telah begitu banyak menelan "asam garam" pemberitaan. Ada kalanya tulisannya berseberangan dengan arus pemikiran masyarakat, atau membuat telinga pejabat memerah. Namun, bagi Obral, itu bukan tantangan yang menegangkan. Itu adalah kesenangan.
"Profesi ini adalah kepuasan", ujarnya. "Bila sebuah tulisan, sebuah konfirmasi, dapat menjadi acuan, menjadi penerang bagi pembaca, di situlah letak bahagia saya."
Ia menghabiskan masa mudanya untuk mengabdi pada kata. Kini, di usianya yang tak muda lagi, ia gonta-ganti redaksi, berpindah platform lokal demi memastikan tulisannya terus tayang. Namun, gairahnya tetap sama: menyajikan berita yang konformatif, berimbang, dan berpihak pada pembangunan yang bersentuhan langsung dengan keperluan masyarakat banyak.
Obral Chaniago adalah saksi. Ia adalah pena yang menolak berkarat. Ia membuktikan bahwa meski media berubah, dari cetak ke digital, integritas seorang jurnalis sejati-sang pengunyah asam garam itu-akan terus abadi.(*).
