Demi Masa Depan Ranah Minang, Naryo Widodo Dorong Mega Proyek Pengendali Lahar
SUMBAR---Di lereng Gunung Marapi yang pernah menyisakan duka panjang akibat banjir bandang dan galodo, sebuah harapan besar kini perlahan berdiri kokoh. Beton demi beton ditanam, aliran sungai ditata, dan sistem pertahanan modern dibangun untuk satu tujuan besar: melindungi kehidupan masyarakat Sumatera Barat dari ancaman bencana yang terus mengintai.
Pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V Padang tengah membangun mega proyek pengendalian lahar dingin dengan total 58 unit sabo dam yang tersebar di 24 sungai sekitar Gunung Marapi. Proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik biasa, melainkan benteng keselamatan jangka panjang bagi ribuan warga yang hidup di kawasan rawan bencana.
Di balik proyek besar tersebut, sosok Kepala BWS Sumatera V Padang, Naryo Widodo, bersama jajaran terus berpacu melawan waktu. Mereka memahami betul bahwa setiap pekerjaan yang diselesaikan hari ini berarti satu langkah lebih dekat untuk menyelamatkan masa depan masyarakat di kaki gunung.
Pembangunan sabo dam itu dirancang sebagai sistem pertahanan modern untuk menahan material vulkanik, batu besar, pasir, dan aliran lahar dingin yang sewaktu-waktu dapat menerjang permukiman warga. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu meminimalisir risiko bencana sekaligus memberi rasa aman yang selama ini dirindukan masyarakat.
Keseriusan pemerintah pusat terlihat nyata ketika Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, turun langsung melakukan groundbreaking proyek tersebut. Kehadiran menteri menjadi simbol bahwa negara hadir dan tidak tinggal diam menghadapi ancaman bencana di Ranah Minang.
Dukungan politik di tingkat pusat juga mengalir kuat. Anggota DPR RI asal Sumatera Barat seperti Andre Rosiade dan Zigo Rolanda turut menjadi motor penggerak perjuangan anggaran agar proyek pengendalian banjir lahar dingin Marapi dapat berjalan maksimal.
Sementara di daerah, sinergi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, tokoh masyarakat, hingga warga menjadi fondasi penting dalam mempercepat pembebasan lahan dan mendukung seluruh proses pembangunan. Semangat gotong royong khas Minangkabau terasa hidup dalam proyek strategis ini.
Bagi masyarakat Sumatera Barat, pembangunan sabo dam bukan hanya tentang beton dan konstruksi. Ia adalah simbol perlindungan. Simbol hadirnya negara di tengah ketakutan masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan ancaman alam.
Ketika seluruh sistem pertahanan ini mulai berfungsi penuh pada 2027 mendatang, masyarakat di kaki Marapi mungkin tidak lagi memandang hujan dengan kecemasan yang sama. Sungai-sungai yang dahulu membawa ancaman diharapkan berubah menjadi aliran yang lebih terkendali.
Sebab pada akhirnya, pembangunan sejati bukan hanya tentang mendirikan bangunan megah. Lebih dari itu, pembangunan adalah menghadirkan rasa aman, menjaga kehidupan, dan memastikan tanah pusaka Minangkabau tetap tegak menghadapi amukan alam yang tak pernah bisa diprediksi.
