Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

RSUP M. Djamil Perkuat Tata Kelola Layanan Bedah, Antisipasi Perubahan Sistem Klaim iDRG


PADANG — Penguatan pelayanan kesehatan di RSUP Dr. M. Djamil Padang tidak hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur dan penambahan kapasitas layanan. Di balik itu, pembenahan tata kelola, efisiensi pembiayaan, hingga kesiapan menghadapi perubahan sistem klaim menjadi bagian penting dalam memastikan pelayanan tetap bermutu dan berkelanjutan.

Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang, Dovy Djanas, menilai Departemen Ilmu Bedah memiliki posisi strategis dalam mendukung arah pengembangan rumah sakit tersebut. Kompleksitas kasus yang ditangani serta pesatnya perkembangan teknologi dan metode pelayanan bedah menuntut adanya perencanaan layanan yang semakin matang dan komprehensif.

“Dengan kompleksitas kasus yang ditangani serta perkembangan teknologi dan metode pelayanan bedah, kebutuhan terhadap perencanaan layanan yang komprehensif menjadi semakin penting,” tutur Dovy.

Menurutnya, pengembangan layanan bedah harus berjalan beriringan dengan penguatan sistem pengelolaan rumah sakit. Artinya, peningkatan kapasitas pelayanan tidak cukup hanya dilihat dari sisi fasilitas dan sumber daya manusia, tetapi juga harus ditopang perencanaan pembiayaan yang akurat.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penyusunan unit cost pada setiap layanan. Dovy berharap Departemen Ilmu Bedah dapat berperan aktif dalam proses tersebut sehingga rumah sakit memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai struktur biaya masing-masing layanan.

“Kami berharap Departemen Ilmu Bedah juga dapat memberikan dukungan dalam penyusunan unit cost. Ini penting agar kita memiliki gambaran yang jelas mengenai kebutuhan biaya setiap layanan dan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan pelayanan secara lebih baik,” katanya.

Ia menjelaskan, unit cost bukan sekadar angka dalam penghitungan pembiayaan. Data tersebut menjadi instrumen penting untuk mengukur efisiensi, efektivitas penggunaan sumber daya, sekaligus menjaga keberlanjutan pelayanan rumah sakit.

“Dengan mengetahui struktur biaya secara lebih akurat, rumah sakit dan departemen pelayanan dapat melakukan perencanaan serta pengelolaan sumber daya secara lebih terukur,” sebut Dovy.

Antisipasi Perubahan INA-CBGs ke iDRG

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah perubahan sistem klaim BPJS Kesehatan dari Indonesia Case Based Groups (INA-CBGs) menuju Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG).

Dovy menilai perubahan tersebut harus dipahami dan dipersiapkan secara menyeluruh oleh seluruh unsur rumah sakit, termasuk Departemen Ilmu Bedah.

“Perubahan sistem klaim dari INA-CBGs menuju iDRG harus kita persiapkan bersama. Ini bukan hanya persoalan administrasi klaim, tetapi juga bagaimana kita memastikan proses pelayanan, pencatatan diagnosis, tindakan, serta dokumentasi medis dilakukan dengan baik dan sesuai dengan ketentuan,” ungkapnya.

Menurut Dovy, keberhasilan menghadapi perubahan sistem klaim membutuhkan sinergi lintas profesi. Dokter, perawat, tenaga kesehatan lainnya, petugas administrasi, hingga unit yang berkaitan dengan proses klaim harus memiliki pemahaman yang sama.

Kesiapan tersebut penting agar perubahan sistem pembiayaan tidak mengganggu kualitas pelayanan kepada pasien. Sebaliknya, momentum perubahan harus dimanfaatkan untuk memperkuat tata kelola rumah sakit secara menyeluruh.

“Yang paling penting adalah bagaimana kita tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pasien, tetapi pada saat yang sama kita juga harus mampu melakukan tata kelola dengan baik. Mutu, keselamatan pasien, efisiensi, dan keberlanjutan rumah sakit harus berjalan bersama,” tegas Dovy.

Dari Rapat Kerja Menuju Aksi Nyata

Dovy berharap pembahasan dan rumusan program Departemen Ilmu Bedah tidak berhenti sebagai dokumen rencana kerja. Setiap gagasan harus diterjemahkan menjadi langkah konkret yang dapat dirasakan manfaatnya oleh pasien dan masyarakat.

Baginya, penguatan layanan rumah sakit merupakan proses berkelanjutan. Infrastruktur harus berkembang, sumber daya manusia harus semakin kompeten, sistem pembiayaan harus semakin terukur, dan budaya mutu harus terus diperkuat.

“Apa yang kita rencanakan harus bermuara pada peningkatan mutu pelayanan, penguatan pendidikan, serta manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.

Dengan arah tersebut, pengembangan Departemen Ilmu Bedah diharapkan tidak hanya memperkuat kemampuan RSUP Dr. M. Djamil dalam menangani kasus-kasus kompleks, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi tata kelola pelayanan kesehatan yang lebih efektif, efisien, aman, dan berorientasi pada keselamatan pasien.