TKSK Linggo Sari Baganti Dampingi Operasi Remaja Kurang Mampu, Biaya Pengobatan Dibantu Baznas
PESISIR SELATAN — Kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu kembali ditunjukkan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Linggo Sari Baganti. Tak sekadar hadir mencatat persoalan sosial, TKSK turun langsung memastikan warga yang membutuhkan mendapatkan akses pelayanan kesehatan.
Hal itu dilakukan Maengki Arwan, S.Pd., TKSK Kecamatan Linggo Sari Baganti, saat mendampingi seorang remaja berusia 16 tahun, Fifi Nur Liza, yang harus menjalani operasi usus buntu di RSUD Dr. Muhammad Zein Painan, Rabu (26/8/2026).
Fifi, putri pasangan Suardi, seorang buruh tani, dan Nopri Yel Putri, ibu rumah tangga, sebelumnya menghadapi persoalan pembiayaan karena keluarganya belum terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Di tengah keterbatasan ekonomi, kondisi tersebut tentu menjadi beban tersendiri bagi keluarga. Namun, persoalan itu tidak dibiarkan berlarut.
Maengki Arwan bergerak melakukan pendampingan dan memfasilitasi kebutuhan administrasi hingga pembiayaan pengobatan Fifi akhirnya dapat ditangani melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pesisir Selatan, dengan skema penanganan pasien bermasalah.
“Alhamdulillah, proses operasi ananda Fifi berjalan lancar. Saat ini kondisi pasien dalam keadaan sehat dan stabil,” ujar Maengki Arwan kepada media.
Temukan Fakta Kemiskinan di Lapangan
Kisah Fifi tidak hanya berhenti pada persoalan operasi. Saat melakukan verifikasi dan kunjungan lapangan pada Selasa (19/8/2026), Maengki menemukan kondisi ekonomi keluarga tersebut jauh dari kata berkecukupan.
Keluarga Fifi diketahui tinggal di sebuah rumah papan berukuran kecil dengan hanya satu kamar. Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata keterbatasan yang selama ini mereka jalani.
Dari hasil verifikasi lapangan, keluarga tersebut masuk dalam kategori kemiskinan ekstrem.
Ironisnya, kondisi faktual di lapangan ternyata belum sepenuhnya tercermin dalam data sosial yang ada. Keluarga tersebut tercatat berada pada Desil 5, sementara berdasarkan kondisi ekonomi dan tempat tinggal, mereka dinilai lebih sesuai masuk Desil 1.
“Melihat kondisi objektif di lapangan, kami langsung mendaftarkan keluarga ini untuk pengusulan bantuan sosial melalui aplikasi Cek Bansos agar datanya dapat diperbaiki dan sesuai dengan kondisi sebenarnya,” jelas Maengki.
Hadir Bukan Sekadar Mendata
Langkah yang dilakukan TKSK Linggo Sari Baganti menunjukkan bahwa pendamping sosial memiliki peran penting dalam menjembatani masyarakat dengan berbagai layanan pemerintah dan lembaga sosial.
Mulai dari memastikan warga mendapatkan akses pengobatan, membantu menyelesaikan persoalan administrasi, memfasilitasi pembiayaan hingga mengusulkan perbaikan data bantuan sosial, dilakukan secara berkesinambungan.
Bagi keluarga Fifi, pendampingan tersebut menjadi angin segar di tengah keterbatasan yang mereka hadapi.
Keluarga pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kepedulian serta gerak cepat yang dilakukan Maengki Arwan dalam membantu proses pengobatan Fifi.
Maengki juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan melalui Dinas Sosial yang dinilai telah memberikan pelayanan dengan baik serta mempermudah proses administrasi dalam penanganan masyarakat yang membutuhkan.
“Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan melalui Dinas Sosial atas pelayanan dan kemudahan proses administrasi. Semoga sinergi ini terus terjaga demi memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tuturnya.
Kisah Fifi menjadi pengingat bahwa di balik data dan angka kemiskinan, terdapat kehidupan masyarakat yang membutuhkan perhatian nyata. Dan di titik itulah kehadiran pendamping sosial menjadi penting—memastikan tidak ada warga kurang mampu yang kehilangan kesempatan untuk mendapatkan haknya atas pelayanan kesehatan dan perlindungan sosial.
