Kapolri Bertemu 6.500 Eks Anggota JI, Garda Satya NKRI Tegaskan Komitmen Mengabdi untuk Indonesia
SURAKARTA — Dari sebuah perjalanan panjang menuju rekonsiliasi kebangsaan, sekitar 6.500 mantan anggota dan simpatisan Jamaah Islamiyah (JI) kini memilih menatap masa depan dengan satu komitmen: kembali mengabdi dan memberikan kontribusi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Semangat itu mengemuka saat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo bertemu dengan para mantan anggota dan simpatisan JI yang kini tergabung dalam Garda Satya NKRI, dalam kegiatan Syukuran Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah, Minggu (30/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kebangsaan sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan kembali ke pangkuan NKRI dapat diwujudkan melalui kesadaran, dialog, dan kemauan untuk bersama-sama membangun Indonesia.
Para anggota Garda Satya NKRI yang hadir berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Di hadapan para peserta, Kapolri menegaskan bahwa keputusan para mantan anggota JI untuk bergabung dan kembali menjadi bagian dari NKRI dilakukan secara sukarela, tanpa tekanan maupun paksaan.
“Tidak ada paksaan, tapi ini lebih memunculkan panggilan dari hati nurani untuk bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam ikatan Garda Satya NKRI,” ujar Sigit seusai kegiatan.
Dari Masa Lalu Menuju Kontribusi Nyata
Bagi Sigit, keputusan tersebut bukan sekadar perubahan sikap, tetapi menjadi pintu untuk menghadirkan energi baru yang dapat diarahkan bagi kepentingan masyarakat dan negara.
Ia menyebut para mantan anggota JI memiliki beragam kemampuan dan pengalaman di berbagai bidang yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan positif untuk pembangunan bangsa.
“Tadi kita sempat berdiskusi bahwa beliau-beliau memiliki keinginan kuat untuk kemudian bisa mengaktualisasikan apa yang beliau miliki di bidang-bidang yang saat ini sudah ditekuni,” katanya.
Menurut Sigit, kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai sektor, mulai dari kewirausahaan, ekonomi, dakwah, kegiatan sosial, hingga aksi kemanusiaan.
Termasuk ketika bangsa menghadapi situasi darurat dan bencana, para anggota Garda Satya NKRI diharapkan dapat mengambil peran bersama masyarakat untuk membantu sesama.
“Beliau-beliau semua selalu siap untuk berkontribusi dan siap juga untuk menghadapi berbagai macam ancaman tantangan yang bisa membahayakan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutur Sigit.
Merawat Keberagaman, Menguatkan Persatuan
Kapolri juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan keberagaman sebagai kekuatan bangsa, bukan sumber perpecahan.
Menurutnya, persatuan dan kebersamaan merupakan modal penting dalam perjalanan Indonesia menuju cita-cita sebagai negara maju.
“Dan mari kita sepakati Negara Kesatuan Republik Indonesia ini betul-betul bisa kita dorong untuk menjadi negara maju sesuai dengan tujuan nasional kita,” ujar Sigit.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa semangat kebangsaan harus tumbuh dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang pernah berada dalam perjalanan ideologis yang berbeda dan kini memilih kembali berdiri dalam satu rumah besar bernama Indonesia.
Para Wijayanto: Kami Kembali Bukan Karena Tekanan
Mantan Amir Jamaah Islamiyah, Para Wijayanto, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa keputusan membubarkan JI dan kembali ke NKRI merupakan hasil proses panjang yang dilakukan secara sukarela melalui musyawarah dan mufakat.
Ia menyampaikan apresiasi terhadap pendekatan pemerintah dan aparat penegak hukum dalam penanganan terorisme yang dinilainya mampu membuka ruang perubahan dan mendorong para anggota JI mengambil keputusan untuk kembali ke pangkuan negara.
“Garda Satya NKRI menyampaikan rasa terima kasih kepada Bapak Kapolri dan jajarannya yang mewakili negara. Kami kembali bukan berdasarkan tekanan, tapi memang perubahan metode dalam menangani terorisme yang tepat, dan ini perlu didukung,” kata Wijayanto.
Ia menjelaskan, keputusan pembubaran JI pada 2024 dan bergabung kembali dalam NKRI dilakukan melalui proses musyawarah hingga tercapai kesepakatan bersama.
“Sehingga kami bisa berubah, membubarkan diri dengan sukarela berdasarkan musyawarah mufakat dan kembali ke NKRI,” ujarnya.
Kini, setelah memilih jalan baru, para mantan anggota JI yang tergabung dalam Garda Satya NKRI menyatakan tekad untuk memberikan kontribusi yang lebih besar bagi bangsa.
“Kami ingin ke depannya bisa berkontribusi lebih banyak di NKRI. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Kapolri,” pungkasnya.
Pertemuan di Surakarta itu pun menjadi gambaran bahwa perjalanan kebangsaan tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Namun, ketika kesadaran, persatuan, dan keinginan untuk berkontribusi bertemu dalam satu tujuan, masa lalu dapat dijadikan pelajaran untuk melangkah menuju masa depan Indonesia yang lebih damai, kuat, dan maju.
