Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

PPK 1.6 Romi Pasla Perkuat Konektivitas Mentawai, Preservasi Jalan Toa Pejat–Katiet Terus Digenjot


MENTAWAI — Di balik megahnya bentang alam Kepulauan Mentawai, terbentang pula tantangan geografis yang tidak ringan. Jarak, kondisi kepulauan, serta karakter medan menjadi ujian tersendiri dalam menjaga aksesibilitas masyarakat dan kelancaran roda perekonomian.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Direktorat Jenderal Bina Marga, terus memperkuat konektivitas melalui penanganan preservasi jalan dan jembatan pada ruas Toa Pejat–Rokot–Sioban–Katiet.

Di lapangan, pelaksanaan pekerjaan tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab PPK 1.6 Romi Pasla, ST., MT., yang terus mengawal upaya menjaga kemantapan infrastruktur jalan nasional di Kepulauan Mentawai.

Ruas strategis yang membentang sepanjang 59,470 kilometer itu bukan sekadar hamparan aspal yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Jalan tersebut merupakan urat nadi mobilitas masyarakat, jalur pergerakan barang dan jasa, sekaligus pintu yang membuka peluang pertumbuhan ekonomi di wilayah kepulauan.

Bagi PPK 1.6 Romi Pasla, preservasi jalan menjadi langkah penting untuk memastikan konektivitas tersebut tetap terjaga. Penanganan dilakukan secara terukur dan berkelanjutan, dengan memperhatikan kondisi struktur jalan, keselamatan pengguna, serta kenyamanan masyarakat yang menggantungkan aktivitasnya pada jalur tersebut.

Tiga Pilar Preservasi untuk Menjaga Kemantapan Jalan

Dalam pelaksanaannya, BPJN Sumatera Barat menerapkan penanganan preservasi secara komprehensif melalui tiga pilar pekerjaan utama.

Pertama, pemeliharaan rutin sepanjang 49,830 kilometer. Pekerjaan ini diarahkan untuk mempertahankan kondisi jalan agar tetap berfungsi optimal. Penanganan antara lain meliputi perbaikan asbuton campuran panas hampar dingin (cold paving hot mix asbuton) serta perbaikan perkerasan beton semen atau rigid pavement.

Kedua, penunjangan atau holding sepanjang 6,220 kilometer. Pada bagian ini, penanganan diarahkan untuk memperkuat struktur jalan melalui perbaikan Lapis Fondasi Agregat Kelas A, penguatan asbuton campuran panas hampar dingin, serta perbaikan perkerasan beton semen.

Ketiga, rekonstruksi jalan sepanjang 3,420 kilometer. Pekerjaan ini menyasar titik-titik yang membutuhkan penanganan struktural lebih mendalam. Rekonstruksi mencakup pembentukan perkerasan beton semen, pekerjaan lapis fondasi bawah beton kurus (lean concrete), hingga penggunaan timbunan pilihan secara presisi.

Rangkaian pekerjaan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menjaga jalan nasional di Mentawai agar tetap mantap dan mampu menghadapi tantangan mobilitas masyarakat dari waktu ke waktu.

Romi Pasla: Jalan Mantap, Ekonomi Masyarakat Bergerak

Di tengah karakter geografis Mentawai yang khas, keberadaan infrastruktur jalan yang andal memiliki arti jauh lebih besar daripada sekadar kemudahan perjalanan.

Jalan yang terpelihara dengan baik akan memperlancar mobilitas masyarakat, mempercepat distribusi kebutuhan, membuka akses antarkawasan, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi masyarakat lokal.

Karena itu, pengawalan pekerjaan oleh PPK 1.6 Romi Pasla, ST., MT. menjadi bagian penting dalam memastikan setiap tahapan preservasi berjalan sesuai kebutuhan lapangan dan tujuan pembangunan konektivitas nasional.

Preservasi bukan hanya tentang memperbaiki bagian jalan yang mengalami kerusakan. Lebih dari itu, preservasi adalah upaya merawat konektivitas sebelum persoalan menjadi lebih besar.

Di Mentawai, setiap kilometer jalan yang tetap mantap adalah sebuah harapan yang terus disambungkan.

Dari Toa Pejat menuju Rokot, berlanjut ke Sioban hingga Katiet, jalan nasional menjadi benang yang menautkan permukiman, aktivitas masyarakat, distribusi barang dan jasa, serta denyut perekonomian kepulauan.

Melalui komitmen BPJN Sumatera Barat dan pengawalan PPK 1.6 Romi Pasla, pembangunan konektivitas di Mentawai diharapkan tidak berhenti pada kokohnya konstruksi, tetapi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sebab, ketika jalan terjaga, perjalanan menjadi lebih aman; ketika konektivitas terbuka, peluang tumbuh semakin lebar.