Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perang Melawan TB dari Lubuk Begalung, Wamenkes Benjamin Tekankan Pentingnya Deteksi Dini

 


PADANG — Upaya memutus mata rantai penularan Tuberkulosis (TB) di Indonesia tidak cukup hanya dengan mengobati mereka yang telah dinyatakan positif. Pemeriksaan terhadap keluarga dan orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien harus menjadi bagian penting dari strategi penanggulangan penyakit tersebut.

Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, saat menghadiri kegiatan Pengabdian Masyarakat yang digelar Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Aula Kantor Camat Lubuk Begalung, Kota Padang, Jumat (18/9/2026).

Dalam kegiatan yang diisi dengan pemeriksaan kesehatan gratis dan skrining TB secara massal bagi masyarakat tersebut, Wamenkes hadir didampingi jajaran Direksi RSUP Dr. M. Djamil Padang.

Kehadiran pemerintah bersama organisasi profesi dan rumah sakit rujukan nasional itu menjadi bagian dari penguatan upaya percepatan eliminasi TB di Indonesia.

Di hadapan masyarakat dan tenaga kesehatan, dr. Benjamin mengingatkan bahwa Indonesia masih menghadapi beban TB yang sangat besar. Saat ini, Indonesia berada di peringkat kedua dunia dengan angka kejadian sekitar 382 kasus per 100 ribu penduduk atau setara dengan 1,08 juta penderita.

Pemerintah pun menargetkan penemuan dan pengobatan kasus TB dapat ditingkatkan hingga 90 persen pada tahun ini.

"Penanganan TB tidak boleh hanya berfokus pada pasien yang sudah dinyatakan sakit. Ketika satu kasus ditemukan, lingkungan terdekat dan kontak eratnya, terutama keluarga yang tinggal serumah, wajib diperiksa," tegas dr. Benjamin.

Menurutnya, langkah tersebut penting karena seseorang yang telah terpapar bakteri TB belum tentu langsung memperlihatkan gejala penyakit.

Proses perkembangan penyakit dapat berlangsung dalam rentang waktu tertentu. Karena itu, pemeriksaan terhadap kontak erat menjadi pintu masuk penting untuk menemukan kasus lebih dini sekaligus mencegah penularan lebih luas.

Pendekatan tersebut juga memungkinkan tenaga kesehatan membedakan antara kontak erat yang belum mengalami TB aktif dan mereka yang telah terkonfirmasi menderita TB.

Bagi kontak erat yang belum mengalami TB aktif, dapat diberikan obat pencegahan sesuai indikasi. Sementara bagi mereka yang telah terkonfirmasi sakit, pengobatan harus segera dilakukan.

Skrining Diperluas hingga Puluhan Ribu Lokasi

Untuk mempercepat penemuan kasus di tengah masyarakat, Kementerian Kesehatan terus memperluas pelaksanaan skrining TB dengan dukungan teknologi.

Pada tahun ini, skrining telah diarahkan ke 53.335 lokasi dengan memanfaatkan teknologi x-ray portabel. Penggunaan perangkat tersebut memungkinkan pemeriksaan dilakukan lebih dekat dengan masyarakat, sehingga potensi kasus dapat ditemukan tanpa harus selalu menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan.

Langkah ini diharapkan mampu memperpendek jarak antara masyarakat dengan layanan deteksi dini TB.

Bahkan, cakupan tersebut diproyeksikan kembali diperluas pada tahun mendatang. Pemerintah menargetkan skrining dapat menjangkau hingga 100 ribu titik di berbagai wilayah Indonesia.

Bagi Kota Padang, kegiatan pengabdian masyarakat di Lubuk Begalung menjadi gambaran bagaimana strategi nasional penanggulangan TB diterjemahkan langsung di tingkat masyarakat.

Kolaborasi antara Kementerian Kesehatan, RSUP Dr. M. Djamil Padang, PDPI, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan upaya eliminasi TB tidak berhenti pada penanganan pasien.

Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk membangun kesadaran bahwa perang melawan TB dimulai dari langkah sederhana: berani memeriksa, cepat menemukan, dan segera mengobati.

Dengan semakin luasnya skrining dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pemeriksaan kontak erat, mata rantai penularan TB diharapkan dapat diputus lebih dini, dimulai dari keluarga hingga lingkungan