Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Besok Ujian Kyu Lemkari Kota Padang, Nanda Satria: Bukan Sekadar Naik Sabuk, Tapi Ujian Mental dan Karakter


PADANG — Ratusan karateka Lemkari Kota Padang akan menghadapi ujian kenaikan tingkat atau Ujian Kyu Semester II Lemkari Cabang Kota Padang, Minggu (20/9/2026). Lebih dari sekadar menguji kemampuan teknik, ujian ini menjadi momentum untuk mengukur kedisiplinan, mental, sportivitas, serta karakter para karateka.

Ketua Pengurus Provinsi Lembaga Karate-Do Indonesia (Lemkari) Sumatera Barat, Nanda Satria, SIP, Karateka DAN IV, menegaskan bahwa ujian kyu tidak boleh dimaknai hanya sebagai rutinitas untuk mendapatkan warna sabuk baru.

Menurut Nanda, ujian kyu merupakan bagian penting dari proses pembinaan karateka. Setiap gerakan yang ditampilkan peserta merupakan cerminan dari latihan, kedisiplinan, dan kesungguhan yang telah dijalani selama berlatih di dojo masing-masing.

"Ujian Kyu ini bukan sekadar rutinitas atau formalitas untuk mendapatkan warna sabuk yang baru. Lebih dari itu, ini adalah bentuk evaluasi atas proses latihan yang telah dilalui para kohai dan rekan-rekan karateka selama ini di dojo masing-masing," ujar Nanda kepada wartawan, Sabtu (19/9/2026).

Ujian yang akan berlangsung di Kota Padang tersebut diperkirakan diikuti sekitar 300 karateka dari berbagai dojo di bawah binaan Lemkari Kota Padang.

Nanda memberikan pesan khusus kepada seluruh peserta agar menjadikan ujian tersebut sebagai ajang menunjukkan kemampuan terbaik dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai karate.

"Junjung kejujuran dan sopan santun dalam setiap gerakan kihon, kata maupun kumite. Jadikan ujian ini sebagai batu loncatan untuk membentuk mental yang tangguh, tidak mudah menyerah dan rendah hati," tegasnya.

Ia mengingatkan, kenaikan tingkat bukan semata-mata bertambahnya warna pada sabuk yang dikenakan. Seiring meningkatnya tingkatan, semakin besar pula tanggung jawab seorang karateka untuk menjaga kehormatan perguruan dan organisasi.

"Saya selalu ingatkan, semakin tinggi tingkat sabuk kalian, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga nama baik perguruan dan organisasi Lemkari," katanya.

Penilaian Harus Objektif dan Profesional

Untuk memastikan kualitas ujian tetap terjaga, Nanda juga telah memberikan pesan kepada Ketua Majelis Sabuk Hitam (MSH) Lemkari Sumbar, Sensei Agusmardi, bersama seluruh tim penguji agar menjalankan tugas secara objektif dan profesional.

Ia menegaskan, hasil ujian harus benar-benar menggambarkan kemampuan teknik dan kesiapan masing-masing karateka.

"Saya sudah berpesan kepada Ketua MSH, Sensei Agusmardi, beserta tim penguji agar memberikan penilaian secara objektif dan profesional. Hasil ujian ini harus benar-benar mencerminkan kualitas teknik para karateka kita ke depan. Tidak ada toleransi yang mengurangi kualitas," ujarnya.

Nanda menyebutkan, pelaksanaan Ujian Kyu Semester II ini juga mendapat perhatian dari jajaran pemerintah daerah. Wali Kota Padang Fadly Amran, yang juga Ketua Dewan Pembina Lemkari Sumbar, dijadwalkan hadir dan membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Kehadiran Fadly Amran diharapkan semakin menambah motivasi bagi para karateka yang akan mengikuti ujian.

"Kehadiran beliau tentu menjadi motivasi besar bagi anak-anak dan seluruh karateka. Kami juga mengundang jajaran pengurus Lemkari Provinsi dan Cabang, para pembina, penasihat, karateka senior, pelatih, pengurus dojo serta orang tua peserta," ungkap Nanda.

Bukan Hanya Juara di Tatami

Lebih jauh, Nanda Satria yang juga Ketua KNPI Sumbar berharap pembinaan Lemkari di Sumatera Barat tidak hanya berorientasi pada lahirnya atlet-atlet berprestasi di arena pertandingan.

Baginya, keberhasilan pembinaan karate juga diukur dari lahirnya generasi yang memiliki karakter kuat, disiplin, menghormati orang tua, menjunjung sportivitas serta memiliki rasa tanggung jawab.

"Karate bukan hanya soal menang di tatami, tapi soal membentuk manusia yang berdisiplin, menghormati orang tua dan setia pada perguruan. Dari ujian kyu inilah fondasinya dibangun," pungkasnya.

Dengan demikian, tatami ujian bukan sekadar tempat mengukur ketepatan kihon, kekuatan kata maupun keberanian dalam kumite. Lebih dari itu, setiap gerakan menjadi bagian dari proses panjang membentuk karateka yang tangguh dalam teknik dan matang dalam karakter.