Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Irigasi Batanghari Mengalirkan Harapan, Progres 58,70 Persen Jaga Asa Petani

 


DHARMASRAYA — Di hamparan sawah yang mulai menguning, bulir-bulir padi bergoyang diterpa angin, seolah menjadi saksi bisu tentang peluh dan kerja keras para petani yang tak pernah mengenal kata usai. Di balik setiap rumpun padi, ada harapan tentang panen, tentang dapur yang tetap mengepul, dan tentang masa depan keluarga yang ingin terus tumbuh.

Namun bagi petani, harapan tidak cukup hanya ditanam. Ia membutuhkan air yang mengalir dan infrastruktur yang mampu menjaganya tetap tersedia.

Menjawab kebutuhan itu, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera V terus bergerak melakukan pembenahan dan optimalisasi Daerah Irigasi Batanghari.

Pembangunan tersebut kini menunjukkan progres menggembirakan. Hingga Agustus 2026, capaian pekerjaan telah mencapai 58,70 persen, jauh melampaui target awal sebesar 44,19 persen.

Angka itu bukan sekadar deretan persentase di atas kertas. Di baliknya terdapat percepatan pekerjaan dan ikhtiar menghadirkan sistem pengairan yang lebih andal bagi ribuan hektare lahan pertanian.

Pada jaringan irigasi tersebut, perbaikan dilakukan antara lain pada saluran Tebing Tinggi sepanjang 850 meter dan saluran Kampung Baru sepanjang 370 meter. Pekerjaan mencakup lining, timbunan hingga pembangunan jalan inspeksi, demi memastikan aliran air dapat bergerak lebih lancar dari hulu menuju hamparan sawah.

Sebab bagi petani, air bukan sekadar bagian dari infrastruktur. Air adalah denyut kehidupan.

Dengan debit intake berkisar 16 hingga 17 meter kubik per detik yang mengalir melalui jaringan saluran primer, sekunder hingga tersier, pasokan air kini mampu menopang sekitar 5.837 hektare areal persawahan.

Dampaknya pun terasa pada peningkatan produktivitas pertanian. Indeks Pertanaman (IP) mencapai 275 persen, yang berarti dalam satu tahun lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara intensif. Total luas tanam bahkan mencapai sekitar 16.052 hektare.

Di tengah perubahan musim yang kerap sulit ditebak, kepastian air menjadi modal penting bagi petani untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Air yang Menembus Batas Provinsi

Denyut pembangunan irigasi Batanghari tidak berhenti pada satu wilayah administratif. Manfaatnya menjalar hingga ke 19 nagari di Kabupaten Dharmasraya, mencakup wilayah Kecamatan Pulau Punjung, Sitiung, Tiumang, Padang Laweh, Koto Baru, Koto Salak hingga Koto Besar.

Aliran manfaat itu bahkan menyeberangi batas Sumatera Barat menuju Provinsi Jambi.

Sebanyak 7 desa di Kecamatan Jujuhan Hilir, Kabupaten Bungo, serta 2 desa di Kecamatan VII Koto, Kabupaten Tebo, turut merasakan manfaat jaringan irigasi tersebut.

Di sini, air seakan mengajarkan sebuah bahasa yang sederhana: bahwa kesejahteraan tidak mengenal garis batas administratif.

Ketika air mengalir dari saluran menuju pematang, ia membawa lebih dari sekadar debit. Ia membawa kepastian panen, menjaga ketahanan pangan, menggerakkan ekonomi desa dan memberi ruang bagi keluarga petani untuk menatap masa depan dengan lebih tenang.

“Dulu kalau masuk musim kering, kami sering cemas dan harus bergantian air sampai larut malam. Sekarang air mengalir deras dan pasti. Kami tidak perlu takut lagi gagal panen, bahkan dalam setahun kami sudah bisa tanam sampai tiga kali,” ujar Pak Hasan, sembari memandangi bulir-bulir padi yang mulai bernas.

Ucapan itu sederhana, namun menyimpan cerita panjang tentang kehidupan petani yang selama ini bersahabat dengan ketidakpastian.

Kini, ketika air mengalir lebih teratur, kecemasan perlahan berganti menjadi keyakinan. Sawah tidak lagi sekadar hamparan tanah yang menunggu hujan, tetapi menjadi ruang produksi yang dapat terus berdenyut sepanjang tahun.

Bagi masyarakat di sekitar Daerah Irigasi Batanghari, pembangunan ini juga berarti lebih dari sekadar saluran beton dan pekerjaan konstruksi.

Ia berarti dapur yang tetap mengepul, biaya pendidikan anak yang lebih terjamin, roda ekonomi yang terus berputar, serta harapan agar generasi muda tani memiliki masa depan yang lebih baik.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah pembangunan bukan hanya terlihat dari panjang saluran yang selesai dikerjakan atau tingginya persentase progres proyek.

Keberhasilan itu akan terasa ketika seorang petani tidak lagi menatap langit dengan kecemasan saat musim kemarau tiba.

Ketika air tetap mengalir ke sawah.Ketika padi tumbuh menghijau, kemudian menguning.Dan ketika bulir-bulir padi yang bernas itu berubah menjadi senyum di wajah petani.

Irigasi Batanghari pun menjelma menjadi lebih dari sekadar infrastruktur. Ia adalah investasi kehidupan—mengalirkan air, menjaga pangan, menggerakkan ekonomi, sekaligus merawat harapan masyarakat lintas wilayah.